Bekas (Sahabat)

Aku yang melukis pelangi, sedang kau menghamburkan duri..
menyisakan cacat pada kenangan kita yang berkarat..
Aku yang menyemaikan harap, sedang kau mencambuknya dengan khianat..
mengukir pedih, lahirkan sedih..

Lambat aku belajar menerka..
sungguhkah kita pernah teduh dalam 1 payung yang sama?
Atau nyatanya, memang benar hanya sayatan duka yang kau gores perlahan dan dalam.
menyisakan aku yang sakit tak tertahan.

Aku belajar mengeja..kata per kata tentang kita..
Entah mengapa yang terbaca hanyalah luka.

Sungguhkah kita benar pernah terjebak dalam simfoni yang indah?
Bersahut-sahut dalam tangga nada yang harmoni..atau, hanyalah ilusi pedih yang tega kau patri.
Lamat-lamat aku mencoba menelan pahitnya nyata yang kau urai..
Bersama harapku yang perlahan berai..

Aku ingin menyebut kenangan ini kita..
tapi yang tersisa dari patutan kaca buram itu hanyalah seonggok aku, sisa-sisa tawa yang sia dan ikrar persahabatan yang pernah kita dengungkan dulu..Sedang kamu? Dimana?
Mungkinkah sedang menatapku dalam kenangan kita yang berdarah?

Aku berharap masih menyebut kenangan ini kita..
Namun kau tawar sakit ini dengan luka yang menyala..
Membuatku lebih fasih dan lantang menyebutkan ini duka..

Mungkin benar, kenangan itu adalah sisa..
Bersama aku, kamu dan (mungkin) kita yang pernah ada..




Bengkulu,19 Februari 2013

alhamdulillah akhirnya :)

Yihaaaaaaaaaaa akhirnyaaaa :D
*wadeeeziiinggg *cetaaaarrr *cetaaaarrr *syyyuuuuttt *dddduuuuuuaaaaarrrr
alhamdulillah ya Rabb..akhirnya setelah penantian 3,5 tahun dan jatuh bangun tumbang, nangis galau jumpalitan, nunggu, manjat tembok, sakit, dari bulan Oktober akhirnya..Januari mulai tampakkan berkahnya. Sidang skripsi juga akhirnyaaaa T__T *TISUMANAAATISUUU

Sidang skripsi yang dilaksanakan tanggal 15 Januari 2013 itu sebenarnya sungguh sangat super duper mendadak. Ceritanya gini, hari itu tanggal 14 Januari 2013 untuk kesekian kalinya saya menghadap dosen tercinta untuk menyelesaikan tugas suci, ya benar : revisi.

Karena sudah cape dan bosen, akhirnya ketabahan itu datang dengan sendirinya. Saya udah nggak nangis-nangis lagi kalo nunggu kelamaan. Menunggu sampai berminggu-minggu, datang dari pagi, menunggu, menunggu dan menunggu lagi. Yah itulah pekerjaan yang paling setia saya lakukan selama 4 bulan ini.

Pada tanggal 14 Januari, saat menemui dosen untuk revisi akhirnya kalimat yang paling dinanti itu datang juga.."Yaudah dek..kamu maju aja sidang skripsi.."
*seketikaberbinarbinar* *tapitetepcool*
"Oh, baiklah dok. Kira-kira kapan dokter berkenan untuk sidang?"
"Yaudah, kamu maju aja besok.."
*hening*
Saya nggak tahu harus gimana lagi waktu itu. Ibarat terbang kelangit ketujuh mendadak jatuh ke inti bumi -__-" #tapitetepcool
"Kalau Jum'at bagaimana, dok?" tanya saya.
"Jum'at itu hari yang singkat dek. Kalau kamu mau pukul 12.45 langsung mulai karena saya pukul 13.45 harus pergi.."
Setelah tawar menawar jadwal, akhirnya saya menemui dosen yang lain. Berharap hari bersejarah saya tidak dilaksanakan besok, karena saya benar-benar tidak ada persiapan apa-apa (kecuali air mata yang siap tumpah berjam-jam selama ujian skripsi)

Jadi saya menemui dosen pembimbing yang lain. Dan menanyakan jadwal beliau yang kosong. Berharap disetujui untuk ujian hari Jum'at, namun takdir berkata lain. Beliau malah berkata :
"Oke kamu sidang besok ya..Karena kalau Jum'at itu terlalu pendek. Saya nggak mau kalau sidang kamu cuma 1 jam. Itu terlalu singkat. Minimal 2 jam. Kalau nggak besok, berarti kamu masih minggu depan lagi dan belum tau kapan.."
*BUNUUUHH SAYAAA BUNUUUHH AJAAAA (tapi jangan juga sih -__-")

Saya tidak kehabisan akal untuk tetap berusaha melobi supaya jadwal ujian bisa hari Jum'at.
"Tapi dok, saya belum siap dok. Kan banyak yang harus saya persiapkan.."
Beliau menjawab, "Lho memangnya kamu mau menyiapkan apa? Udah..malam ini kamu belajar aja nggak usah nyiapin apa-apa."
"Tapi dok, waktu semalam..Apa nggak terlalu singkat dok?"
"Roro jonggrang aja bisa bangun 1000 candi dalam semalam, masa kamu nggak bisa nyiapin kompre dalam semalam.." *sayabingung* *seketikahening* *apa persamaan saya sama roro jonggrang yak* *tesDNA *ibuuu saya anaak siapaaa..katakaaann anak siapaaa??

Akhirnya, saya pun pasrah haha benar-benar pasrah! HAHAA SUNGGUH PASRAH HAHAHAhikshiks :'(

Saya berusaha semaksimal yang bisa saya usahakan. Sore pulang dari kampus, saya langsung menyiapkan draft skripsi dan meminta hani untuk menemani mengantarkan draft skripsi ini. Sampai di kosan lagi hari udah malem dan saya sudah ngantuk..

Tapi saya belum menyerah. Saya harus belajar. Mau jawab apa saya besok kalau nggak belajar. Akhirnya, saya pun beli sop kambing (biar tekanan darah agak naik dikit dari biasanya, siapa tau jadi lebih pinter haha) dan minum kopi berharap mata sedikit keganjel sama kopi. Tapi kenyataannya?
Terlalu pahit mengakuinya..anda benar, saya tertidur -,-"

Syukurnya Tuhan masih membangunkan saya di waktu dini hari. Dan itulah detik-detik perjuangan (yang disertai tremor dan jantung berdebar efek kopi).
Sampai keesokan paginya saya benar-benar sampai pada titik nadir. Saya hanya bisa menyerahkan semua pada-Mu, Allah..
Jika terbaik menurut-Mu hari ini, jika yang terbaik menurut-Mu adalah yang seperti ini, maka tidak ada yang jauh lebih baik daripada itu..

Setelah menatap cermin cukup lama dan melihat garis mata yang sembab dan bulat seperti panda kejebur got, saya berangkat ke kampus. Dengan langkah penuh percaya Allah.
Saya meyakini satu hal, tidak ada yang lebih baik dari ini..

Esok paginya saya mengikuti ujian remediasi OSCE stase visum terlebih dahulu. Setelah remed, saya tetap berusaha untuk membaca ulang materi yang sudah saya pelajari dan yang belum saya pelajari. Setelah komat kamit di dalam mushola akhwat dan beberapa ribu kali nyaris tertidur, akhirnya saya memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Pasti nggak lucu kalau saya pingsan karena belum makan. Pasti. Saya harus tampil fresh saat ujian (alibi sempurna padahal aslinya laper).

Waktu pun waktu berlalu. Mengitari detik demi detik lalu melangkahi menit per menit. Kalau saja ada penitipan jantung, mungkin itu sudah saya lakukan kemarin. Saya mencoba menghubungi orang-orang dan meminta restu, berharap do'a dari mereka yang ikhlas mendo'akan saya ini dapat mengetuk pintu langit sehingga hujan berkah dan kebaikan tumpah dari langit di hati pembimbing dan penguji sekalian. Namun kisah lain di dalam ruang ujian membuat saya semakin cemas. Temen saya udah 1 jam lebih diinterogasi di dalam ruangan. Apa lagi saya ini yang belajar buat ujian kompre udah kayak belajar buat tutorial --_--"

Panggilan itu akhirnya datang. Dengan wajah cengar-cengir #tapitetepcool khas shinta, aku perlahan menyerahkan diri ke dalam ruangan ujian yang mendadak jadi dingin bangetngetngetnget. Dan seketika aura di ruangan itu berubah menjadi beku, sedih, suram, sepi..kelam, dan kebahagiaanku serasa sedikit demi sedikit hilaaangg..terbaaangg seperti tersedot ke suatu tempat, lalu di luar ruangan terlihat dementor berkeliaran..masa kecilku yang bahagia mulai terbayang lalu hilaaanggg aaakkkk sayaaa kehilangan kebahagiaaan huwaaaa aaakkkk toloongg aaakkk dementooorr EXPECTO PATRONUM *seketika keluar kuda* hahaha i'm ginny weasley and i'm not terrorist!
*shinta sadar shint, sadaaarrr* *nelen diazepam*

Bayangan semakin nyata. Well, dosen pembimbing telah duduk dengan ramah di depan. Dan ujian itu pun dimulai!

Beberapa pertanyaan mampu saya jawab dengan baik, namun disaat pertanyaan suram hanya mampu saya jawab dengan senyuman tercool se-bimasakti sambil mengatakan.."maaf dok, sepertinya saya belum membacanya.." atau "maaf dok, saya belum membaca detailnya namun menurut pemikiran saya..blablabla.."

Yah prinsip shinta : walau hidup sulit tapi tingkat kekerenan tidak boleh turun.

Setelah habis babak belur oleh pertanyaan akhirnya ujian skripsi itu SELEESAAII JUGAAAA!!!
dan kalimat dewa itu tercetus juga akhirnya..."Selamat kamu lulus ujian.."
Sayup-sayup terdengar "we are the champiioooonn my frieeenndsssss..aaaannnnddd we'll keep on fighting till the eeennnndddd..."
tengkioohh epeeribadeehh tengkiooohh tengkioooohh *keliling fk ala putri indonesia*

Alhamdulillah, rasa syukur yang melimpah ruah.
Akhirnya..diantara tumpahnya air mata,waktu yang habis untuk menunggu, rasa lelah, sedih, perasaan kesal yang diramu dalam uji demi uji kesabaran maka tampak kebahagiaan yang lahir dari sana. Inilah keindahan dari sebuah perjuangan yang nikmatnya mungkin tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya.

Skripsi adalah secuil kisah dalam mozaik persinggahan singkat di bumi-Nya.
Dalam perjalanannya, terkadang kita merasa hidup ini tidak adil, kenapa saya harus berjuang lebih sementara di A tidak atau kenapa saya harus seribet ini sementara si B tidak atau kenapa saya kenapa saya yang lainnya yang membuat kita merasa bahwa dunia ini tidak adil.

Tapi percayalah, jika ini adalah kehendak dari Allah, maka tidak ada yang lebih indah dari ini.

Terkadang, kebahagiaan hadir kedalam hidup kita dalam wajah kesedihan dan kegagalan. Namun hanya dengan perjuangan, do'a dan kesabaranlah kita bisa melihat wajah asli dari kesedihkan dan kegagalan itu :)
Saat ini kita seperti sedang berjalan dan meniti lorong demi lorong yang kelam mencekam. Percayalah ada setitik cahaya indah yang sedang menanti di ujung sana..

Teruslah berjuang, wahai pejuang!
Karena masih banyak cerita di bumi Allah yang harus kau singkap dengan ilmu dan imanmu. Semakin hari, teruslah merasa haus, penuhi telaga hidupmu dengan perjuangan karena-Nya. Jangan pernah berhenti, karena perjuangan itu..baru saja dimulai :)

*pertama kalinya tanpa malu-malu menuliskan ini ---> Shinta Trilusiani, S.Ked

Bandar Lampung, 22 Januari 2013

Anak Kampung

Kamis, 03 Januari 2013 00.05 by SHINTA TRILUSIANI 0 komentar
Ya, aku memang anak kampung. Berasal dari sebuah desa kecil, tinggal di sebuah kota dan provinsi yang tidak begitu besar. Dari sekujur darah yang mengalir dalam tubuh ini, riwayat menceritakan bahwa garis leluhurku berasal dari tanah sumatera.

Seperti hal-nya anak-anak kampung lain, aku juga cukup terbiasa dengan permainan-permainan tradisional seperti layang-layang, gasing, kelereng, lompat kodok, membuat boneka/pistol-pistolan dari pohon pisang dan permainan-permainan lainnya. Aku sangat menikmati masa-masa kecilku dulu. Ketika bermain memanjat pepohonan, belarian kesana kemari dan benar-benar menikmati alam sebagai sahabat sepermainan. Aku yakin, seperti apa aku sekarang adalah bagian pembentukan karakter yang dirintis oleh masa kecilku ketika di desa dulu.

Sampai akhirnya, orang tua ku pindah ke kota dan aku juga ikut pindah. Karena kota ku bukanlah sebuah kota metropolitan yang besar, aku masih dapat menikmati keasrian sebuah tradisionalitas dari daerahku. Dari alamnya, permainannya kental sekali terasa budayanya. Ketika masih di sekolah dasar aku masih sangat sering menikmati permainan tradisional khas anak-anak.
Amboi, seru sekali jika harus dikenang masa-masa bocah-bocah bau keringat matahari itu!

Ketika menginjak menengah pertama, aku berada di antara teman-temanku yang (kebanyakan) anak kota asli. Tidak jarang, teman-temanku yang di kota sering menertawaiku ketika mengetahui aku berasal dari desa. Hei, apa yang salah dengan anak kampung? Bukankah saat ini aku berada di satu tempat yang sama dengan kalian? Saat itu entah aku yang terlalu bangga karena bisa berada di posisi yang sama dengan mereka atau entah mereka yang harus malu kenapa bisa berada di posisi yang sama dengan anak desa seperti aku. 

Hingga akhirnya saat ini aku berada di sebuah kota yang katakanlah cukup besar dan cukup dekat dengan pulau jawa. Apalagi di jurusanku ada berbagai macam makhluk dari berbagai macam kota.
Tidak bisa disalahkan baik dari segi gaya, selera mau pun pemikiran seringkali jauh bertentangan antara si kota dan si desa. Wajar saja, bukan? Toh mereka berada di 2 tempat yang berbeda. Dengan fasilitas berbeda. Dengan pembentukan karakter yang berbeda pula.

Tidak jarang aku menangkap pandangan-pandangan yang seolah melontorkan kata "iyuuuuhhh bangeett siihhh.." dari mata seorang teman yang melihat kelakuanku yang dianggapnya kampungan, norak, udik, dusun. Atau bahkan kalimat langsung yang segar meluncur langsung dari mulutnya, "ihhh..norak banget sih.." dan aku? tetap saja tidak peduli bahkan terkadang semakin menjadi-jadi hahaha *kurangsadardiri* *pedelevelbombastis*

Karena bagiku kenapa kita harus malu? Karena bukanlah sesuatu hal yang memalukan atau menjijikkan jika memang menjadi anak kampung. Yang penting pemikiran kita tetap maju, elegan dan mampu berpacu dengan zaman. Makanya aku selalu heran melihat beberapa orang yang (berasal dari kampung) enggan mengakui asalnya. Lebih memilih bersembunyi dan melepas identitas lalu mengagungkan ego yang (menurutku) adalah bodoh.

Banyak orang malu kalo harus mengaku dari kampung. Takut dikatain cupu. Ah, bisa ditebas mungkin sama leluhurku alasan-alasan sepele seperti itu (bahkan sepertinya hal itu tak layak disebut alasan). Entah kenapa aku sih percaya mereka yang dari kota juga berasal dari desa kok. Mungkin juga desa yang peradabannya lebih maju, mekar dan menjadi kota.

Sebenarnya ibroh yang ingin aku bagi pada tulisan ini bukanlah terletak pada 'anak desa lebih baik' atau 'anak kota lebih buruk' atau pun sebaliknya. Bukan, tentu saja. Karena tidak ada batasan baik dan buruk selain al-qur'an dan hadist. Tapi ibroh yang ingin aku bagi adalah berhentilah memandang orang lain lebih rendah dan kasta kita jauh di atas dibandingkan dengan orang lain hanya karena menurut kita dia itu kampungan, norak, tidak selevel, atau apalah. Karena sedikit pun, Allah saja tidak pernah.

Padahal banyak kok anak kampung yang bisa sukses. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Bisa saja, orang yang selama ini kita rendahkan, kita pandang sebelah mata (bahkan mungkin sangat enggan kita pandang) menjadi orang yang jauh lebih sukses daripada kita dan (parahnya) di masa itu, bisa saja kita akan memohon (atau bahkan mengemis keujung sepatunya) meminta tolong pada orang yang sempat kita pandang rendah..

alangkah menyedihkannya!

Bandar Lampung, 3 Januari 2013

tak sampai

Rabu, 02 Januari 2013 05.12 by SHINTA TRILUSIANI 0 komentar
ada cerita yang pernah kuurai dalam badai yang menjadikannya debu..
namun malaikat lebih tertarik untuk menggumamkannya dalam fosil yang tanah.
adakah sampai padamu?

derak-derak hati yang merambat melalui dinding kencana..
menggetar bumi porakkan bencana..
namun frekuensi bisumu yang menulikan naluri..
melepuhkan seisi syaraf..meletup-letupkan seisi jantung.
sungguhkah tak pernah sampai padamu?

aku adalah titisan kerikil pedih yang mengelupas..
putih layak buih yang lari kehilangan ombaknya..
mencoba meretas mawar yang elegi..
ingin kusampaikan tapi tak ingin retak..
ingin kunarasikan pada birunya awan..
pada birunya samudera..
pada separuh lilin yang meremang.
tapi yang ada hanyalah sebingkai bayangan yang kabut.

gelagat hujan yang selalu terbaca..
pergi setelah sejuk..menyisakan misteri kerinduan yang mendalam.
bahkan tak sedikit pun sisa bayangan yang dibagi oleh matahari..
pudar..lalu separuh nafasnya perlahan mengangkasa.
meninggalkan rerumputan yang kian membumi.

aku yang melukis senja dalam diam..
dalam bait langkahmu yang semakin menghilang.
meretas merah saga dalam sukma yang buta..
memainkan segala harmoni bagi peri tuli,
mencuri pelangi lalu menabur dalam duri..
memapah angin lekatnya kuat dalam memori..
agar supaya getarnya sampai padamu..


tak sampaikah padamu?


Bandar Lampung, 2 Januari 2013

Rumah

Rabu, 26 Desember 2012 07.33 by SHINTA TRILUSIANI 0 komentar
dalam cakrawala 
pesona yang terkenang
bait-bait rindu 
yang selalu kueja
dari sebingkai hati
berparas asli..rumah.

nyatakah kuasa cahaya
tatkala kehangatan memeluk erat
bahkan pucuk kemangi 
memeluk embun yang tersembunyi malu
pada pijar-pijar yang menyala
dari sepucuk kasih yang intan

ku kira tanah surga
--adalah pembentuk 
dari kebaikan hati
dari mereka yang kupanggil
..keluarga.

bening-bening mata tatkala basah
dari keping hati yang berai
tapi rengkulan sayang itu pupuskan sudah
rentakan masalah

langit yang muram pun
akan kehilangan akal
hilang sandaran pada hujan
ketika teriknya matahari
mekarkan kuntum-kuntum
pecahkan riak-riak kepiluan
dari sajak tentang hati yang retak

terima kasih
untuk syair penuntun
yang menjadi peta
kemana kaki harus melangkah

terima kasih
untuk hamparan makna
yang menjadi tujuan..
tuk temukan alasan.

kenapa..
aku harus pergi..
dan harus (segera) kembali.

Terima kasih.
para abdi yang kasih..




Bandar Lampung, 26 Desember 2012

Sore Bersama Kak Putri :)

Disuatu sore yang galau, saya dikejutkan dengan mention seorang kakak tingkat yang tulisannya sering banget saya baca. Namanya kak putri : "Barusan buka blognya @shintrilusiani..Hey adik cantik tulisanmu bagus lho... :)" seketika saya langsung cetar-cetar karena yang berbicara adalah seseorang yang sering saya intip tulisannya :D akhirnya, kak putri ngajakin nulis puisi berdua sore itu juga. Dengan senang hati saya terima. Lalu kami pun menulis via ym. Seperti apa tulisannya? Silahkan dibaca :)





Bagiku. 
Kamu adalah hal ter-nyata dari sebuah kesemuan. 
Sinar yang paling kelam dari kegelapan. 
Bagian terdangkal dari dalamnya jurang. 
Iya. Kamu, mimpi yang kupaksakan jadi realita. 

Kau pernah menyematkan luka. 
Pada sisi mataku hingga basah. 
hingga hatiku berdarah. 
Namun asa tak pandai ajarkanku menyerah. 
Terpenjaralah aku. 
dalam kamu yang tak pernah ada.

Dan kamu tak pernah peduli pada gunungan kasa yang kupintal sendirian untuk membalut luka. 
Kamu membuatku kehilangan daya untuk melangkah, bahkan untuk mundur selangkahpun. 
Tinggallah aku dalam khayalan. 
Membayangkan apakah ada bahagia yang terasa senyata sakit yang meremuk ini. 
Egois? siapa yang egois? kamukah? atau cintaku?

Aku hanyalah pilu. 
yang kau sulam dari angan untuk kau tinggalkan : pernahkah sedikit terbaca?
Kekasih..kau tidak lebih dari curahan purnama yang membuatku buta. 
Bahkan anginpun nyata terlihat iba. 
Kau membuatku mati dalam tak rela. 

Aku menunggumu bagaikan bulan yang menanti pertemuannya dengan matahari. 
Takkan pernah tercipta waktu untuk berbagi, namun tetap saja menanti. 
ahh! waktu, sudah lama aku bersahabat dengannya hanya demi menunggumu, dan diapun sudah menyerah untuk menyadarkanku bahwa aku menunggumu dalam dimensi yang salah.
 Tapi dalam ragunya yakinku, aku sanggup melakukan apa saja, kecuali melihatmu pergi. 

Mungkin, kita telah bertatap dalam senja yang berbeda. 
Hanya ada aku dalam jalan kaca yang retak lalu patah. 
Tapi tidak dirimu. Bayangmu pun lebih memilih pergi dan berlalu. 
Ada gumpalan kenangan yang menganga dan kau biarkan saja. 
Aku tetap saja pilu. yang tertatih mencoba menyusuri pedihnya jalan kaca, tanpamu. 
Walau patahannya menusuk indah hingga lembah nadiku.

Baiklah tuan. 
Nikmati saja Perjalanan kepergianmu. 
Aku akan menguntitmu dari belakang. 
Sambil diam-diam berdoa kau akan menyusuri lagi jalan dimana bersenyawanya kenangan kita. 
Sampai kamu sadar, bahwa aku tidaklah kemana-mana,
...aku hanya dihatimu saja.

tak perlu sesal

Rabu, 14 November 2012 03.19 by SHINTA TRILUSIANI 2 komentar
kita pernah berjalan beriringan
layaknya sepasang hutan dan hujan
seperti kenari yang setia menari
seperti lembutnya usapan awan 
pada punggung langit..

semesta berdecak 
akan romansa angin 
yang membuai putik gemulai
lalu rerumputan bersahut sabda
Adakah cinta yang lebih mulia daripada ini..

tari menari 
menyengsarakan waktu 
yang hanya bisa bersaksi

tembok kaku 
hanya bisa menggigit jari
pada rona merah jambu 
yang menancap 2 hati

Buaian senja
membuat buta
redup remangnya mulai mengangkasa
kegelapan yang nyata
kini terasa
hitam menjelaga

angin yang pernah sejuk
bebungaan yang pernah merekah
sesiulan merpati riang yang nyaring
seketika hilang
noktah hitam
dan sekelebat bayang-bayang
yang mulai meninggalkan

sesederhana pilu
yang terkesan oleh air mata
oleh rengekan tak rela
pada patahnya ranting
yang tak kan satu

lalu kelu pun membeku
saat pagi menyongsong 
bersama matahari
mencairkan sedih
mengaliri derak kecewa 
yang sempat meluka

kini hanya beningnya embun
yang bertutur pada semesta


: inilah masanya, aku datang bersama bahagia.


Bandar Lampung, 14 November 2012